Ahad, 15 Mei 2011

punai

the pigeon cooed in the darkness of night

on a branch, in weakness, while i was asleep. i lied; for i swear that were i (His) loved

not the pigeons alone, but i too would weep; i think i am lovesick, excessively lovelorn

for my Lord-but I weep not, though animals weep i

di kegelapan malam seekor punai berkicau,
di atas sebatang dahan yang lemah
sementara aku justeru terbaring mendengkur
demi rumah Allah, aku telah berdusta
bila sampai aku mengaku merindukan Allah,
di saat para punai itu lebih dulu
menangis daripada aku
Aku pikir, aku ini manusia yang sangat
rindu pada Nya
namun nyatanya, aku tak mudah
menangis
seperti burung-burung punai itu.

*o beloved son, imam al-ghazali

6 ulasan:

mae berkata...

cari butang like tak jumpe...kene tulis komen LIKE' kat sini

benludin azhar berkata...

kehkeh!!

dipetik dari buku 'o beloved son' tu..

Hashim Zabidi berkata...

berdosakah punai kalau
berkicau diwaktu siang
lagunya, lagu sendu
sepanjang zaman,
ghairah berahi segala Awang
memetik picu laras senapang.

Tak berdosa kata mereka
burung punai enak rasanya.

WanBeruas berkata...

..Orang Parit sebut punai..Puna..hehehe...

en_me berkata...

burung aper.. ehehe

KiLaT berkata...

punai...
pandai...!